Minggu, 24 November 2019

Puisi Langit

Kala malam berselimutkan sunyi, Lamunanku membayang dirimu.
Ingin kucumbui dirimu dengan ketulusan, bersama rinduku yang telah lama berpadu
Kupuisikan rindu dihatiku, meski tiada seorang pun yang mengetahui
Biarlah kusimpan rindu ini didalam pustaka hati

Akan kutulis rindu ini dalam setiap lembaran bulu-bulu dalam tubuhku
Akan kutulis kasih ini dalam setiap aliran darah di sekujur tubuhku
Akan Kutulis cinta ini dalam setiap hembusan nafas dalam jiwaku
Agar setiap detak jantungku selalu menyebutkan nama mu hingga menggetarkan tubuhku

Datanglah bersama segala kasihmu, terangi hati ini yang telah lama dalam kegelapan
Menari dan menyanyilah dengan tarian rindu yang bersenandungkan roman cinta
Ajari dan bimbinglah aku bersama kasih dan sayang yang kau miliki dengan segenap rasa
Menyatu dan meleburlah bersama jiwaku dengan segala cinta yang ada dialam semesta

Malam ku semakin larut kesunyian ini membaawaku pada bayangan cinta yang kau taburkan
Merasuk kedalam setiap pori – pori tubuhku, hingga kuhanyut dalam kesucian cinta yang abadi
Kurasakan Ketenangan dan kedamaian cinta yang hakiki yang selama ini lama kurindukan
Tinggallah selamanya dihatiku dan jangan pernah pergi lagi, karena cinta ini abadi.

Kejujuran para penggoda yang berjuang

Tuhan ma'afkan aku yang terlalu bodoh untuk memahaminya, dengan cara berpikirku yang sempit.
Meyakini kebenaran semu dengan segala keterbatasan pandangku, dua sisi hidup yang selalu aku abaikan karena analisaku.

Serasa aku tak sanggup menjalani ini semua, namun keimanan ku yang selalu menguatkanku tuk menjalani yang terkadang rapuh oleh keinginan.

Keinginan yang timbulkan penderitaan, karena aku terlalu tamak untuk memiliki nya yang terkadang melebihi batas normal.

Setiap jejak yang kudapat tak membuatku lebih baik menapak, karena selalu tergerus ambisi yang meledak kan hati nurani....

Kemungkaran dan Angkara yang aku timbulkan, semata hanya menuruti hawa nafsu dan ambisiku yang labil ...

Ku akui diriku adalah penipu ulung dan aku pandai bersolek didepan cermin, wajah dan wujudku ada seribu bentuk. Karena aku nisbatkan diriku si Penggoda yang berjuang.

Tak ada lawan untukku bertanding, tak ada musuh yang tak terkalahkan...

Mereka bagai anai-anai bertebaran, sekali tiup dengan hembusan lembutku mereka terhempas dan Berhamburan.

Aku selembut sutra dan seringan kapas dalam segala siasatku, namun aku sangat beracun dan mematikan.

Kini segala hasut dan tipu daya yang aku timbulkan dengan ketegasan dan kelembutan janji yang di hembuskan, tak dapat membendung kekacauan ini...

... sebuah akibat yang membuatku dalam persimpangan melangkah maju untuk mati ataupun mundur kembali ketempat duduk ku yang mereka sanjung selama ini.

Aku terlalu angkuh memakai jubah kesombonganMU, hingga menjadikan keberadaanku dalam kebodohan,
Yang mungkin tak tertolong olehMu (Tuhan), Karena kelancanganku atas jubahMu, menjadikan aku terpuruk dalam situasi pelik ini

Kini pilihanku adalah maju untuk mati, mundur untuk malu...
Masihkah... Engkau tawarkan ampunanmu Yaa Robb...
Sedangkan langit dan bumi pun seakan engan untuk menerima...

Dalam sekaratku bertanya, Tuhan andaikan waktu dapat berputar kembali ...
Aku memilih tak terlahir kembali ke dunia fana ini.
Namun dari isyarat dan ayat yang KAU sampaikan...
kini aq memahami semua ini, aku kau utus kedunia ini untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabku.

Diam dan tawadhu adalah jalan menuju Mu Yaa Rabb...


Subhanalloh...
Alhamdulillah...
Astaghfirulloh...